.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Penjelasan Rawai Tuna Mini, Sedang dan Besar


Tafshare - Selamat sore teman - teman semuanya. Kali ini kita masih melanjutkan pembahasan mengenai Tuna Longline. Sebelumnya kita telah sampai pada pembahasan Penjelasan Rawai Tuna, Deskripsi, Operasional Penangkapan dan Hasil Tangkapannya. Nah, sekarang kita akan melanjutkan pembahasan mengenai Rawai Tuna Mini, Sedang (konvensional) dan Besar.
 Rawai tuna yang telah dikemukakan sebelumnya adalah termasuk tipe inkonvensional ukuran sedang yang dipakai pada masa – masa lampau atau sebagian masih dipakai sekarang. Sepanjang sejarahnya rawai tuna tidak pernah mengalami perubahan – perubahan pada komponen utama yang pada prinsipnya terdiri dari tali utama (main line), tali cabang (branch line) dan tali pelampung (float line) beserta pelampungnya. Akan tetapi agar dapat bekerja lebih efektif dan efisien dalam pengoperasian alat tangkap tersebt, maka diadakan perubahan terutama mengenai alat bantu Line hauler maupun mesein pelepas (line thower) tali dari cara lama yang dianggap kurang efektif menjadi lebih efektif lagi yang dikenal dengan auto line system sedangkan kapal yang digunakan tetap sama ataupun dapat menjadi lebih besar disesuaikan dengan  lamanya beroperasi di laut. Perubahan lain yang sering terjadi ialah mengenai pemakaian bahan untuk tali pancing yaitu umumnya menggunakan bahan – bahan sintetik.
Dengan adanya alat – alat bantu tersebutkeiatan operasional rawai tuna menjadi lebih efektif dan efisien karena sesuatunya dilakukan se cara mekanis yaitu dengan adanya mesin pelempar tali (line thrower), mesin penarik tali (line arranger), mesin penggulung tali cabang (branch line hauler), ban ban berjalan lambat (slow belt conveyor), ban berjalan cepat (fast belt conveyor), alat penghitung (counter line speed) dan bel (buzzer sound). Adanya alat bantu tersebut sudah tentu harus disesuaikan dengan keadaan kapal. Untuk kapal – kapal penangkapan berukuran kecil sudah tentu tidak semua alat bantu tersebut dapat digunakan, karena keadaannya memang tidak memungkinkan. Untuk itulah kemudian diciptakan berbagai bentuk ukuran rawai tuna yaitu rawai tuna mini (mini tuna longline), rawai tuna sedang konvensional (convensional longline) dan rawai tuna besar (deep sea longline).
Rawai tuna mini (Mini Tuna Longline)
Biasanya tiap satuan rawai tuna mempunyai ukuran panjang tali utama 25 – 40 meter (Ø 5 mm) bahan kuralon, dengan tali cabang 4 buah. Sedangkan kapal yang digunakan adalah eks Cungking trawl atau yang kurang lebih sama ukurannya. Dalam keadaan operasi jangkauan mata pancing dapat mencapai kedalaman  antara 50 – 120 m. Tiap kali penangkapan biasanya membawa 163 keranjang (basket). Dalam keadaan direntangkan panjang keseluruhan tali pancing (tali utama) meliputi 21 km (11,8 mil laut) dengan catatan bila kerutan 0,65 %.
Rawai tuna sedang (konvensional)
Biasanya tiap satuan rawai tuna sedang mempunyai ukuran panjang tali utama 40 – 50 m(q 6 mm) bahan dari kuralon, memakai 6 buah tali cabang (mata pancing). Sedang kapal yang digunakan berukuran ± 20 – 30 GT. Dalam keadaan operasi jangkauan kedalaman mata pancing dapat mencapai 90 – 195m. Tiap penangkapan membawa 247 keranjang/basket. Dalam keadaan direntangkan panjang keseluruhan tali pancing (tali utama) meliputi 57,5 Km (3,19 mil laut) dengan catatn bila kerutan tali pancing 0,69 %.

Rawai tuna besar (Deep Tuna Longline)
Biasanya rawai tuna besar mempunyai ukuran panjang tali utama 55 – 65 m, bahan terbuat dari kuralon, memakai 13 tali cabang (mata pancing). Sedang kapal yang digunakan berukuran 100 – 200 GT. Dalam keadaan operasi jangkauan kedalaman mata pancing dapat mencapai 100 – 350 m. Tiap penangkapan membawa ± 147 keranjang (basket). Dalam keadaan direntangkan panjang keseluruhan tali pancing (tali utama) meliputi 73,6 Km (41 mil laut) dengan catatn bila kerutan tali pancing 0,55 %. (Gambar)
Hasil Tangkapan
Dalam kegiatan penangkapan rawai tuna di perairan Indonesia biasanya tertangkap 4 jenis tuna, yaitu Tuna sirip biru/Southern bluefin tuna (Thunnus macoyii), madidihang/Yellowfin tuna (Thunnus albacaros), albacora/albacore (Thunnnus alalunga), tuna mata besar/Bigeye tuna (Thunnus abesus). Jenis – jenis tuna tersebut merupakan komoditi ekspor sebagai tuna segar. Sementara itu albacore hanya merupakan hasil sampingan saja.

Author image
Tentang Penulis

Buhairi Rifqa Moustafid atau biasa dipanggil Taf/Moustafid/Tafid merupakan seorang mahasiswa Jurusan Perikanan dengan program studi Budidaya Perikanan Universitas Gadjah Mada. Saya merupakan orang yang masih perlu banyak belajar untuk menambah wawasan kepenulisan dan artikulasi terutama dalam bidang perikanan. Semoga tulisan - tulisan dalam blog ini bermanfaat dan dapat membuka cakrawala pembaca seputar dunia perikanan, pertanian dan kawan - kawannya. Jika ada kritik, saran, pesan, salah dan tulisan yang tidak berkenan dapat anda sampaikan melalui pesan sosial media yang tercantum. Jazakallahu khoiron katsir.

Follow me on:

0 komentar:

Post a Comment

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net