23 Mei 2020

Teknik Budidaya Rumput Laut Tahap Pembibitan

Teknik Budidaya Rumput Laut Tahap Pembibitan
Tafshare.com - Rumput laut yang telah dibudidayakan sebagaia komoditas ekspor merupakan produk unggulan negara Indonesia. Budidaya rumput laut terbilang gampang-gampang susah. Selain dikarenakan rumput laut termasuk tumbuhan tingkat rendah sehingga tidak dapat dibedakan antara akar, batang dan daunnya juga metode pembiakannya yang sangat berbeda dari kebanyakan budidaya tanaman. Terdapat 2 metode konvensional dalam budidaya rumput laut yakni Fragmentasi Talus dan Spora. Baca Juga: Rumput Laut: Deskripsi, Habitat dan Persebarannya
Ulva Lactuca (Sumber:pixabay.com)
Fragmentasi
Metode Fragmentasi talus biasa disebut juga sebagai metode stek. Teknik ini umum digunakan oleh para pembudidaya. Teknik ini dilakukan dengan cara memotong talus kemudian ditanam kembali dan menjadi tanaman baru. Dalam teknik ini yang sangat perlu diperhatikan ialah pemilihan bibit yang bagus. Teknik seleksi membutuhkan banyak bibit awal yang akan diseleksi dan waktu yang kurang dapat diperkirakan, serta sangat dipengaruhi oleh lingkungan budidaya. Cara memilih bibit yang bagus dapat melalui seleksi secara langsung atau seleksi populasi.

-Seleksi Langsung
Seleksi langsung dilakukan dengan menseleksi bibit yang bagus kemudian ditanam pada lahan budidaya. Bibit yang ditanam berasal dari rumput laut berusia 25 - 30 hari, cabang banyak atau agak rimbun, tidak terdapat bercak, tidak mengelupas, tidak berlendir, segar, lentur, tidak terserang penyakit, tidak ditumbuhi lumut dan terdapat banyak calon talus lainnya. Seleksi secara langsung merupakan teknik yang sederhana dan cepat. Sumber bibit awal di dapat dengan mudah dari hasil budidaya sebelumnya. Namun penggunaan bibit secara berulang memiliki potensi menurunkan kualitas bibit dari segi pertumbuhan maupun ketahan terhadap penyakit. Baca Juga: Aklimatisasi Ikan, Pengertian, Metode dan Tujuan

-Seleksi Populasi
Motode seleksi Populasi dilakukan dengan memilih bibit pada kawasan populasi budidaya tertentu seperti pada luasan budidaya, luasan lahan tertentu atau lahan yang telah disiapkan untuk menghasilkan bibit unggul untuk dibudidayakan. Dalam metode seleksi populasi dapat dibagi menjadi beberapa seleksi yakni berdasarkan laju pertumbuhan harian (LBH) dan berdasarkan varietas. Stock bibit Metode LBH berasal dari pembudidaya. Indukan dipilih berdasarkan kondisi fisik yang baik seperti talus memiliki cabang yang banyak, rimbun, ujung-ujung talus agak runcing, talus secara morfologi terlihat bersih, segar, berwarna cerah, umur indukan 30 hari, tidak berlendir, tidak rusak, tidak patah, tidak berbau busuk pada saat akan dilakukan penanaman dan talus bebas dari penyakit (bercak putih dan terkelupas) dan biofouling. Rumput laut yang telah di seleksi dipelihara selama 30 hari dan dijadikan indukan baru (G-0). Seleksi dilakukan pada 10% LPH tertinggi. Hasil seleksi dijadikan sebagai bahan bibit awal untuk siklus selanjutnya. Selanjutnya seleksi dilakukan untuk mendapatkan varietas dari G-1 sampai G kesekian dan seleksi dilakukan dengan proses yang sama dengan siklus sebelumnya untuk tiga siklus atau sampai LPH telah memperlihatkan nilai yang stabil. Semakin lama seleksi semakin sedikit bibit yang afkir dan hasilnya semakin besar atau semakin stabil.

Seleksi varietas merupakan teknik yang cukup sederhana yaitu memilih varietas terbaik. Sumber bibit diambil dari hasil budidaya atau dari alam. Sumber bibit yang akan diseleksi memiliki bobot awal sekitar 50 gram dan dipelihara di lahan budidaya. Teknik ini membutuhkan luasan lahan 50x40 m persegi untuk perbanyakan bibit. Waktu yang dibutuhkan menyesuaikan performa bibit awal. Seleksi dilakukan hingga diperoleh pertumbuhan rumput laut yang relatif stabil. Pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh lingkungan perairan budidaya. Berdasarkan penelitian teknik ini meningkatkan pertumbuhan bibit 2,92% per hari atau sebesar 84,25% dibanding dengan bibit rumput laut tanpa seleksi. Baca Juga: Nutrisi yang Dibutuhkan Mikroalga

Spora
Teknik Spora ialah memanfaatkan sebagian siklus hidup rumput laut sendiri yaitu berkembangbiak dengan spora. Spora diambil dari rumput laut yang telah memiliki karpospora dengan ciri-ciri adanya tonjolan yang tumbuh dipermukaan talus. Pelepasan spora dapat dilakukan dengan menggantungkan talus rumput laut dibawah permukaan air selama 3 hari dengan harapan spora dapat lepas dan menempel pada substrat. Teknik ini dapat dilakukan di wadah aquarium dapat juga langsung di lahan budidaya dengan catatan telah disediakn substrat untuk menempel bibit yang dihasilkan. Spora akan nampak pertumbuhannya setelah 2 minggu dengan pemeliharaan mencapai ukuran 2-3 cm dan siap diaklimatisasi di lapangan. Teknik ini tidak mudah untuk dilakukan masyarakat sebab sangat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti substrat dan kualitas air yang digunakan dalam menumbuhkan spora. Spora rumput laut juga dapat dikembangkan secara in vitro. Perkembangan spora rumput laut secara in vitro memerlukan kondisi yang sesuai untuk tumbuhnya baik media maupun lingkungannya. Sehingga diperlukan pengetahuan dan ketrampilan khusus. Penyediaan bibit waktu dan biaya yang tinggi.

Terdapat teknik yang dikembangkan yakni kultur jaringan. Teknik ini menjadi salah satu teknik yang dapat menjamin kualitas bibit dan memberikan hasil yang baik. Serta dapat menghasilkan banyak persediaan bibit yang dibutuhkan.

Sumber:
Heranti, H. 2018. Perbanyakan Kultur Jaringan Pada Perbanyakan Bibit Rumput Laut. Makalah Semianar 1 SKS. Akuakultur UGM. Yogyakarta.

20 Mei 2020

Rumput Laut: Deskripsi, Habitat dan Persebarannya

Rumput Laut: Deskripsi, Habitat dan Persebarannya
Tafshare.com - Rumput laut merupakan komoditas penting perikanan Indonesia. Budidaya rumput laut telah banyak dikembangkan hampir di seluruh Indonesia. Rumput laut juga menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia di pasar ekspor. Menjadi salah satu penyumbang devisa negara, tak ayal rumput laut menjadi primadona bagi pembudidaya karena keuntungannya yang cukup menjanjikan. Sebagian besar dari kita mungkin sudah pernah mengkonsumsi rumput laut, bahkan mungkin menjadi santapan harian sebagai menu tambahan. Pengembangan budidaya rumput laut telah banyak dikembangkan dari kapasitas produksi hingga jenis yang dibudidayakan demi menunjang kebutuhan pasar ekspor. Baca Juga: Budidaya Laut, Raksasa Ekonomi Indonesia yang Tertidur
Iluastrasi Rumput Laut (Sumber: wikimedia.org)
Deskripsi
Rumput laut termasuk ke dalam makroalga bentik tumbuhan laut. Sejauh ini klasifikasi rumput laut dibagi menjadi 4 yaitu alga hijau biru (Cyanophyta), alga merah (Rhodophyta), alga coklat (Phaeophyta), dan alga hijau (Chlorophyta). Jenis rumput laut yang banyak ditemukan di Indonesia ialah Gracilaria, Gelidium, Eucheuma. Hypnea, Sargasum dan Turbinaria. Rumput laut tergolong jenis tanaman yang tidak dapat dibedakan antara akar, daun, dan batang. Sehingga rumput laut termasuk tumbuhan tingkat rendah. Seluruh bagian tubuhnya disebut talus, bentuk talus rumput laut bermacam-macam ada yang seperti tabung, pipih, gepeng, seperti kantong dan rambut. Baca Juga: Habitat dan Persebaran Ikan Tuna Madidihang (Thunnus albacares)

Habitat dan Persebaran
Pertumbuhan dan persebaran rumput laut sangat bergantung dari faktor-faktor oseanografi serta jenis substratnya. Rumput laut lebih banyak dijumpai pada daerah dengan perairan dangkal, kondisi perairan berpasir dan atau sedikit berlumpur. Substrat yang biasa digunakan sebagai tempat hidup rumput laut ialah berlumpur, grave pasir kasar dan batuan karang. Pertumbuhan rumput laut menancap di tempat berlumpur kebanyakan berupa jenis Halimeda, Avrainvillea dan Udotea. Substrat berpasir menjadi tempat kebanyakan rumput laut tumbuh. Rumput laut yang hidup ditempat berpasir menancap menggunakan holdfast. Holdfast berfungsi untuk mengikat partikel pasir atau menancap pada daerah berpasir sehingga badan dapat tetap tegak dan tidak hanyut terbawa arus. Jenis rumput laut yang hidup di daerah berpasir ialah Caulerpa, Gracilaria, Ecucheuma, dan Acanthophora. Rumput laut juga dapat tumbuh pada substrat batu karang. Biasanya dijumpai pada pulau yang berombak besar dan deras. Rumput laut yang hidup pada daerah batuan karang menahan dirinya menggunakan holdfast berbentuk cakram. Sehingga dapat melekat dan menempel pada substrat dan tidak terbawa arus. Jenis rumput laut yang hidup dibatuan karang ini berasal dari jenis Gelidium, Gelidiopsis, Gelidiella, Hypnea, Laurecia, Hormophysia, Turbinaria dan Sargassum. Baca Juga: Pemahaman Seputar Laut

Wilayah persebaran rumput laut di Indonesia meliputi perairan pantai kepulauan Riau, Selat Sunda, Kepulauan Seribu dan Karimunjawa. Pada wilayah ini lebih banyak ditemukan rumput laut yang hidup pada substrat terumbu karang. Wilayah pulau-pulau Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan akan banyak menjumpai rumput laut yang hidup pada substrat berlumpur. Rumput laut yang hidup pada substrat berpasir menyebar di seluruh perairan laut Indonesia seperti Selat Sunda, Jawa bagian selatan, NTT-B, pulau-pulau Sulawesi selatan dan utara dan perairan Maluku.

Sumber:
Heranti, H. 2018. Perbanyakan Kultur Jaringan Pada Perbanyakan Bibit Rumput Laut. Makalah Semianar 1 SKS. Akuakultur UGM. Yogyakarta.

17 Mei 2020

Aklimatisasi Ikan, Pengertian, Metode dan Tujuan

Aklimatisasi Ikan, Pengertian, Metode dan Tujuan
Penebaran Ikan (Sumber: insidepontianak.com)
Tafshare.com - Dalam budidaya ikan terdapat satu proses perpindahan ikan dari lingkungan baru ke lingkungan lama. Tahapan ini seringkali diabaikan oleh pembudidaya, bahkan yang sudah menjadi rutinitas terkadang lupa. Proses ini disebut aklimatisasi ikan. Aklimatisasi ikan memiliki pengertian proses penyesuaian atau adaptasi fisiologis dari lingkungan lama kepada lingkungan yang baru. Sederhananya agar ikan 'tidak kaget' ketika 'pindah rumah'.

Tujuan
Aklimatisasi dilakukan guna mencegah terjadinya shock lingkungan pada ikan. Hal ini disebabkan perbedaan pH, suhu dan kualitas air yang sebelumnya ke tempat yang baru. Aklimatisasi juga dilakukan untuk mencegah terjadinya kematian masal akibat stress lingkungan atau proses fisiologis dan osmoregulasi yang mendadak berubah.

Metode
Proses aklimatisasi dilakukan dalam beberapa tahap yakni penyamaan lingkungan perairan, adaptasi suhu dan pH. Terlebih dahulu ikan dalam wadah seperti wadah plastik pada gambar diatas diapungkan dalam kolam. Proses ini biasanya dilakukan 10-15 menit atau hingga ikan terlihat 'megap-megap'. Proses ini bertujuan untuk menyamakan suhu lingkungan perairan dalam wadah dengan lingkungan kolam. Selanjutnya wadah dibuka dan air kolam dicampurkan sedikit demi sedikit ke dalam wadah. Ini dilakukan untuk menyamakan kualitas air kolam dengan air yang berada dalam wadah setidaknya nilai pH dan DO. Kemudian dibiarkan hingga ikan mencari jalan keluarnya sendiri. Ketika ikan sudah terlihat berenang-renang hendak keluar menuju kolam, maka ikan sudah dapat dilepaskan.

Proses ini penting untuk selalu diingat dan dilakukan ketika memindahkan ikan dari lingkungan lama ke lingkungan baru. Guna mempertahankan kualitas bibit ikan agar dapat tumbuh dengan baik dan sehat sehingga memberikan hasil yang memuaskan.

14 Mei 2020

Teknik Budidaya Lele Tahap Pembesaran

Teknik Budidaya Lele Tahap Pembesaran
Tafshare.com - Lele merupakan ikan konsumsi primadona di Indonesia. Hampir di setiap trotoar jalanan menyajikan kuliner pecel lele juga biasa tersedia di rumah makan mewah setingkat restoran. Maka tidak heran jika lele menjadi komoditas penting yang banyak dibudidayakan demi memenuhi permintaan masayarakat. Budidaya lele terbilang gampang-gampang susah. Perlu perkenalan yang baik terlebih dahulu jika belum pernah membudidayakannya (Baca Juga: Memahami Karakteristik Ikan Lele). Budidaya lele memerlukan teknik tersendiri, biasanya para pembudidaya sudah hafal dan fasih dalam menerapkannya.
Ilustrasi ikan lele (Pixabay.com)
Persiapan Kolam Budidaya
Tahap pertama yang dilakukan ialah menyiapkan tempat budidaya. Budidaya lele dapat dilakukan dimanapun, bahkan di ember sekalipun (Baca Juga: Budidaya dalam Ember). Namun jika yang diinginkan ialah skala konsumsi atau jumlah yang banyak tentu kolam menjadi tempat yang direkomendasikan. Persiapan kolam terdiri dari pengeringan kolam, pengapuran dan pemupukan (Baca Juga: Persiapan Kolam Untuk Budidaya Ikan). Perlakuan ini dilakukan untuk memberikan tempat yang semirip mungkin dengan habitat atau syarat hidup ikan yang hendak dibudidayakan.

Pemilihan Benih
Salah satu faktor penentu kesuksesan dalam budidaya ialah kualitas benih yang berkualitas. Tanpa benih yang berkualitas, budidaya dapat mengalami banyak kendala. Terdapat banyak jenis ikan lele yang tersedia di Indonesia. Jenis lele yang direkomendasikan untuk dibudidayakan ialah lele Dumbo dan Sangkuriang. Pembudidaya juga dapat menggunakan jenis yang lainnya sesuai kebutuhan. Ukuran benih yang biasa dibudidayakan dalam tahap pembesaran ialah 5-7 cm. Namun dapat juga dimulai dari ukuran 7-9 cm.

Ciri benih lele yang baik ialah memiliki gerakan yang lincah, tidak terdapat luka atau cacat di tubuhnya, tidak mengandung bakteri, jamur atau penyakit lainnya. Ukuran sambungan kepala ke badan tidak jomplang. Biasa kita mengetahui terdapat ikan lele yang nampak kepalanya besar namun ukuran badannya kecil, ini tanda benih yang tidak baik. Usahakan ukuran benih seragam agar dapat tumbuh serempak.

Menebar Benih
Benih yang telah didapatkan jangan langsung ditebarkan ke kolam budidaya. Lakukan terlebih dahulu aklimatisasi agar tidak terjadi shock lingkungan pada ikan. Ini terjadi akibat perbedaan lingkungan perairan atau perbedaan tempat hidup ikan sebelumnya dan sesudahnya. Jika tidak dilakukan aklimatisasi maka dapat menimbulkan kematian mendadak atau stress yang berujung pada pertumbuhan yang kurang baik, mudah terkena penyakit dan sukar untuk makan. Kepadatan benih prinsipnya ialah 1 m persegi untuk 100 ekor hingga 300 ekor. Semakin baik kualitas air yang dimiliki, semakin baik sirkulasi perairan kolam, semakin lengkap fasilitas pendukung budidaya semakin tinggi pula kepadatan ikan yang dapat ditampung.

Pemberian Pakan
Setelah ikan ditebar, maka lakukan pemuasaan terlebih dahulu agar ikan dapat menyesuaikan dengan lingkungan secara optimal. Pemuasaan dilakukan selama 1-2 x 24 jam bergantung kondisi. Cobalah beri pakan setelah pemuasaan 1x24 jam sedikit demi sedikit. Jika ikan mulai makan dan cukup lahap maka pemuasaan terhitung cukup. Namun jika masih sukar untuk makan, maka lanjutkan pemuasaan yang kedua. Pakan yang direkomendasikan untuk lele ialah yang mengandung protein tinggi seperti daging-dagingan, serangga atau cacing. Jika menggunakan pakan buatan direkomendasikan PRIMA FEED LP yang diproduksi MS. Meskipun demikian lele dapat memakan jenis pakan yang diberikan.

Pemberian pakan dengan dosis maksimal 7% dari bobot ikan tiap pemberian pakan. Misalkan ikan berbobot 10 gram maka pakan yang dibutuhkan sebanyak 0.7 gram tiap pemberian pakan. Pemberian pakan dapat dilakukan pagi dan sore atau pagi siang dan sore bergantung kebutuhan. Direkomendasikan banyak memberi pakan pada sore dan atau malam hari agar dapat menyesuaikan karakteristik ikan.

Selanjutnya ikan dipelihara seperti biasa sesuai dengan jadwal pembudidaya dan pemberian pakan. Masalah dapat saja muncul kapan saja, oleh karena itu ada baiknya melakukan sampling ikan setiap 2 pekan sekali untuk melakukan pengecekan kesehatan ikan, deteksi penyakit, grading dan pemisahan ikan berdasarkan ukuran agar seragam dan tidak menyebabkan kanibalisme.

11 Mei 2020

Persiapan Kolam Untuk Budidaya Ikan

Tafshare.com - Budidaya ikan menjadi salah satu cara paling mudah untuk mendapatkan sumber protein hewani. Budidaya ikan tumbuh pesat dan banyak digemari masyarakat. Budidaya ikan mulai dari skala kecil seperti di ember (Baca Juga: Budidaya Ikan Dalam Ember (Budikdamber)) hingga skala semi intensif untuk kebutuhan rumah tangga. Budidaya ikan juga berkembang hingga skala intensif yang dikembangkan perusahaan-perusahaan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani di masyarakat. Kebutuhan terhadap ikan juga senantiasa meningkat seiring dengan digalakkan gemar makan ikan dari Kementerian KKP. Demi menyokong kebutuhan tersebut, maka diperlukan pemahaman yang utuh dalam tahapan budidaya ikan agar menghasilkan kualitas ikan yang baik dengan pemeliharaan yang baik. Sehingga bagi yang hendak budidaya terutama yang belum berpengalaman mengerti bagaimana tahapan dalam melaksanakan budidaya sehingga ikan yang dibudidayakan memberikan hasil sesuai yang diharapkan, tidak banyak menghadapi kendala budidaya dan memberikan hasil yang memuaskan.

Persiapan Kolam
- Pengeringan Kolam
Pengeringan kolam dilakukan untuk menghilangkan bibit penyakit yang tumbuh. Bibit penyakit tersebut dapat berasal dari tanah yang usai saja diolah atau jika budidaya sudah berjalan sebelumnya dapat berasal dari sisa mikroorganisme budidaya sebelumnya. Pengeringan dilakukan selama kurang lebih 3-8 hari. Tanda dari pengeringan ini untuk kolam tanah ialah ketika tanah telah pecah-pecah. Jika kolam dasaran semen terlihat tidak ada kandungan air sama sekali dan panas dapat dirasakan pada semen kolam.  Baca Juga: Mengenal Sistem Pemeliharaan Budidaya Ikan

- Pengolahan Tanah
Jika dasaran kolam adalah semen maka dapat dilanjutkan proses persiapan air setelah benar-benar melalui masa pengeringan. Jika kolam memiliki dasaran tanah, maka selama proses pengeringan tanah yang telah kering tersebut dibalik. Dapat juga dilakukan setiap hari agar kondisinya semakin baik. Pembalikan tanah dilakukan untuk menghilangkan gas-gas beracun yang tertimbun. Jika kolam telah digunakan sebelumnya, maka terdapat lumpur hitam dibaliknya. Lumpur hitam tersebut lebih baik dibuang karena terdapat kandungan gas beracun yang sangat pekat. Lumpur tersebut biasanya berbau busuk.

Persiapan Air Budidaya
- Pengapuran
Setelah kolam benar-benar melalui proses pengeringan, dilanjutkan proses persiapan air budidaya. Tahap pertama dilakukan pengapuran kolam. Pengapuran digunakan untuk membunuh bibit penyakit yang tersisa. Pengapuran juga dilakukan untuk menyeimbangkan keasaman kolam. Kapur yang digunakan ialah dolomit atau kapur pertanian. Dosis yang digunakan sebanyak 50 g/m persegi (sumber). Pengapuran dilakukan maksimal 7 hari selama proses pengeringan.

- Pemupukan
Peletakan pupuk dibawah inlet kolam (Sumber: Disini)
Setelah pengapuran dilakukan, kolam diisi air setinggi maksimal 30 cm. Kemudian pemberian pupuk dilakukan. Pemupukan dilakukan guna menumbuhkan fitoplankton dan memberikan nutrisi dalam air. Fitoplankton berfungsi menjadi pensuplai oksigen dan menyerap amoniak. Selain itu dapat juga sebagai 'cemilan' ikan budidaya. Pupuk yang digunakan berupa pupuk kandang (direkomendasikan) dengan dosis 150 g/m persegi (sumber). Pupuk ditaburkan ke seluruh permukaan kolam. Kemudian sisa pupuk kira-kira sebanyak 5 kg (untuk ukuran kolam 12x8 m) diletakkan dibawah inlet kolam untuk memberikan nutrisi seperti sari-sari teh ke seluruh badan kolam. Sembari air kolam diisi hingga ketinggian 50-60 cm. Pemupukan dilakukan selama 3 hari namun dapat juga hingga 7 hari bergantung pertumbuhan fitoplankton. Ciri dari kolam mengandung fitoplankton ialah air berwarna kehijauan.

Setelah proses tersebut, kolam sudah dapat digunakan untuk budidaya. Selanjutnya ialah pemilihan benih ikan yang baik dan proses pemindahan ikan yang akan dibudidayakan ke kolam pembesaran. Masing-masing ikan berbeda karakteristiknya, sehingga akan dibahas terpisah.

10 Mei 2020

Peran Pasca Panen pada Peningkatan Mutu Hasil Perikanan

Tafshare.com - Proses panen merupakan tahap akhir dari penangkapan ikan baik ikan tersebut berasal dari alam liar maupun budidaya ikan. Panen yang baik biasanya dilakukan dari bagian hilir kemudian bergerak ke arah hulu. Jika dalam budidaya maka panen dapat saja menggunakan jaring tanpa menguras air agar ikan masih cukup segar atau menguras air dengan menampung ikan pada saat sebelum outlet kolam. Ikan yang usai saja di panen akan memasuki proses berikutnya yakni pasca panen. Pasca panen merupakan tahap penanganan hasil perikanan segera setelah pemanenan. Karena hasil perikanan akan mengalami perubahan secara fisik dan kimiawi. Sifat dari ikan yang cenderung mudah rusak sehingga penanganan pasca panen penting untuk dilakukan. Pasca panen berperan sangat penting demi menjaga mutu dari kualitas ikan tersebut. Penanganan pasca panen ini dapat mencegah susut bobot, memperlambat perubahan kimiawi yang tidak diinginkan, mencegah kontaminasi bahan asing dan mencegah terjadinya kerusakan fisik. Penanganan pasca panen terdiri atas pembersihan, pengeringan, pendinginan, penyortiran, penyimpanan dan pengemasan. Baca Juga: Cara Mengidentifikasi Ikan Segar

Pembersihan
Pembersihan ikan bawal air tawar di Joglo Tani pada saat berkunjung (Dokumentasi Pribadi)
Setelah ikan dipanen, ikan dimasukkan ke dalam  wadah yang telah disiapkan. Selanjutnya dibersihkan menggunakan air bersih. Pembersihan ini dilakukan agar sisa air kolam atau air ikan berasal dapat sepenuhnya hilang dari tubuh ikan tersebut sehingga tidak terjadi kontaminasi pada lingkungan yang baru. Untuk ikan yang akan di konsumsi biasanya dilakukan pembersihan pada sisik, insang dan isi perut. Komponen tersebut dibuang demi menjaga fresh ikan selama proses penyimpanan.

Pengeringan
Bagi ikan yang akan diolah lebih lanjut sebaiknya dilakukan proses pengeringan. Ini dilakukan agar menghilangkan medium air yang masih banyak terkandung dalam tubuh ikan. Air menjadi medium terbaik untuk tumbuh bakteri terutama bakteri pembusuk. Proses ini biasanya dan seringkali dilewati begitu saja dan langsung masuk ke proses selanjutnya. Namun jika akan dilakukan pengolahan lebih lanjut seperti menjadi ikan asap atau asin, biasanya akan melalui proses ini.

Pendinginan
Drop ikan tuna beku di Inkubator Mina Bisnis, Perikanan UGM (Dokumentasi Pribadi)
Proses ini dilakukan untuk mempertahankan kualitas daging tetap baik. Meskipun terdapat bakteri pembusuk yang tetap tumbuh dalam medium dingin, setidaknya proses ini dapat menghambat pertumbuhannya. Sehingga mutu dan kualitas daging dapat bertahan lebih laman. Baca Juga: Cara Mengolah Ikan Segar dan Tujuannya

Penyimpanan
Proses ini dilakukan dalam 2 kondisi sebelumnya yakni kering ataupun dingin. Jika disimpan dalam kondisi kering, maka perlu dipastikan kandungan air sudah benar-benar hilang sehingga tidak terjadi pembusukan selama proses penyimpanan. Jika penyimpanan dalam kondisi dingin, biasanya dilakukan dengan suhu 0 absolut.

Pengemasan
Proses ini sejalan dengan penyimpanan. Biasanya produk akan disimpan sesuai dengan kemasan berdasarkan kebutuhan atau target penjualan. Sehingga pada saat bongkar muat untuk penjualan atau proses kemudian dapat berjalan lebih mudah dan efektif.

Bagi ikan fresh yang dibutuhkan dalam kondisi hidup, cukup melalui proses pembersihan yang kemudian akan diletakkan pada penampungan yang lebih mudah seperti di akuarium atau model kolam kecil dekat dengan tempat pengolahan (dapur). Untuk ikan yang dibutuhkan dalam kondisi mati dan segar maka proses dilakukan seluruhnya dengan memperhatikan standar operasional prosedur yang ada. Baca Juga: Kandungan Gizi dan Manfaat Daging Gurami. Tujuan dari adanya kegiatan ini ialah mengurangi susut jumlah dan mutu pada tiap rantai penanganan, mempertahankan mutu yang diinginkan konsumen, memperpanjang masa simpan (shelf life) sehingga dapat meningkatkan ketersediaan di lokasi manapun dan kapanpun serta mencegah kerusakan fisiologis dan mikrobiologis.

Sumber:
Bautista, Ofelia K. 1990. Postharvest Technology for Southeast Asian Perishable Corps. Technology and Livelifood Resource Center. Los Banos. Phillipines.
Hong Seok-In. 2006. Packaging Technology for Fresh Produce. One Day International Seminar "Postharvest Losses of Cole Corps (Brassia vegetables) Causes and Solutions. FTIP, Unpad. Bandung.
Winarno, F.G. 1981. Fisiologi Lepas Panen. Sastra Hudaya. Jakarta.
Pertanianku.com/penanganan-pascapanen-ikan-tawar/

9 Mei 2020

Nutrisi yang Dibutuhkan Mikroalga

Tafshare.com - Mikroalga merupakan komponen penting perairan yang memberikan kontribusi penyedia oksigen terlarut dalam air. Sehingga dalam pelaksanaan budidaya ikan khususnya, ketersediaan mikroalga senantiasa dibutuhkan. Mikroalga juga biasa dijadikan sebagai pakan alami bagi ikan budidaya, meskipun tidak sepenuhnya bergantung namun setidaknya mikroalga yang tersedia dalam air dapat menjadi 'cemilan' bagi ikan budidaya. Perkembangan budidaya mikroalga bahkan telah memasuki tahap dimana beberapa jenis mikroalga di proyeksikan menjadi komoditas pangan manusia. Bahkan menjadi salah satu alternatif solusi pangan pengganti daging dan sayur yang sekarang tersedia di masa depan nanti. Sehingga mikroalga hingga kini telah banyak dibudidayakan mengingat kebutuhan yang selalu meningkat di segala lini kehidupan dan bernilai ekonomis. Baca Juga: Pengelolaan Air dan Kualitas Air Budidaya Ikan Kerapu Cantang di PT Indmira
Budidaya Mikroalga di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau, Jepara dokumentasi pada saat kunjungan (Dokumentasi Pribadi)
Dalam pelaksanaan kultur mikroalga, dibutuhkan berbagai macam unsur anorganik baik unsur makro seperti N, P, K, S, Na, Si dan Ca maupun unsur mikro seperti Fe, Zn, Cu, Mg, Mo, Co, B dan lain-lain. Unsur penting sebagai bahan pembentukan protein ialah N, P, S dan dalam metabolisme karbohidrat membutuhkan unsur K. Fe dan Na memberikan peran pembentukan klorofil sedangkan Si dan Ca sebagai bahan pembentuk dinding sel atau cangkang. Pertumbuhan mikroalga sangat erat kaitannya dengan ketersediaan hara makro dan mikro yang juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Faktor lingkungan yang dapat berpengaruh antara lain intensitas cahaya, suhu, tekanan osmose, pH dan konsentrasi nutrisi dalam media budidaya. Baca Juga: Parameter Kualitas Air yang Perlu Diperhatikan Lengkap

Nutrien yang dibutuhkan fitoplankton untuk melangsungkan pertumbuhan dan menjadi yang paling utama ialah nitrogen dalam bentuk nitrat. Kandungan nitrogen yang berlebih dapat menghambat proses biosintesis sel alga. Kandungan nutrien P yang berlebih juga dapat berdampak negatif pada pertumbuhan sel. Konsentrasi P berlebih akan menghambat proses asimilasi senyawa P bagi pertumbuhan, bila konsentrasi P rendah akan mengganggu proses pembentukan ATP sehingga pertumbuhan terbatas Bentuk senyawa nitrogen yang lebih disukai oleh mikroalga adalah amonium (NH4) karena proses transportasi dan asimilasi ion amonium oleh sel fitoplankton membutuhkan energi yang lebih sedikit dibandingkan dengan transportasi di asimiliasi ion nitrat (NO3). Senyawa N dalam NH+ ini kemudian di asimiliasi bersama-sama dengan asam glutamat menjadi berbagai jenis makromolekul organik seperti protein dan asam nukleat yang dibutuhkan oleh sel mikroalga.
Budidaya makro dan mikroalga dalam kolam lele (Dokumentasi Pribadi)
Oleh karena itu, dalam budidaya mikroalga ini diperlukan pengetahuan mengenai komposisi nutrisi yang tepat agar hasil yang didapatkan lebih maksimal. Pelaksanaan budidaya terutama budidaya khusus mikroalga yang intensif dengan skala bertahap (Lab, Semi terbuka, Terbuka) sangat memperhatikan kebutuhan tersebut. Namun bagi budidaya ikan yang tidak terlalu mementingkan jenis mikroalga yang dihasilkan dalam perairan cukup mengikuti aturan pemupukan sesuai dosis berdasarkan SNI yang telah ditetapkan (Baca Juga: Pengelolaan Air untuk Teknologi Budidaya Ikan Tradisional dan Semi Intensif). Sehingga kualitas air budidaya tetap terjaga dengan baik agar pertumbuhan ikan budidaya sehat dan tidak mengalami banyak kendala.

Referensi:
Tugas Mata Kuliah Plankton dan Tumbuhan Air, Dosen Pengampu Dr. Eko Agus Suyono

Tiga Elemen Kehutanan: Hutan, Kehutanan dan Manusia

Tafshare.com - Dalam mengenal dunia kehutanan, kita perlu mengetahui elemen penyusunnya antara hutan, kehutanan dan manusia. Hutan menjadi salah satu sumber daya alam yang tersajikan di dunia sebagai penjaga kelestarian alam. Hutan merupakan suatu kumpulan pepohonan yang cukup rapat, pada umumnya menempati suatu kawasan yang cukup luas sehingga memiliki iklim mikro yang berbeda dengan kawasan di luarnya. Lebih mudahnya, hutan sebagai suatu komunitas biologi yang didominasi oleh pepohonan dan vegetasi kayu lainnya. Baca Juga: Budidaya Laut, Raksasa Ekonomi Indonesia yang Tertidur
Kawasan hutan di Kebumen (Dokumentasi Pribadi)
Kehutanan merupakan istilah yang digunakan untuk studi ilmu pengetahuan, bisnis, seni dan praktek pengorganisasian dan pengelolaan sumber daya hutan. Tujuannya ialah menghasilkan manfaat bagi kehidupan manusia secara lestari. Hutan memiliki karakteristik khusus berhubungan dengan kelestarian lingkungan. Diperlukan tindakan-tindakan pengelolaan agar tetap lestari. Kehutanan sebagai sub sektor pertanian yang secara umum berhubungan dengan pepohonan pada kawasan yang lebih luas. Proses pengelolaan biasanya dengan pengaplikasian berbagai rangkaian perlakuan silvikultur. SIlvikultur ialah cara atau metode yang dilakukan untuk menumbuhkan tumbuhan itu sendiri, sehingga banyak ilmu dan seni kreatifitas tersendiri dalam melakukan perlakuan yang tepat untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Manusia menjadi pelaku pengelola dan yang memanfaatkan sumber daya hutan. Banyak sekali kebutuhan manusia yang berasal dari alam terlebih pada sumber daya alam hutan. Manusia sering memanfaatkan pohon-pohon yang terdapat di hutan baik kayu maupun non kayu. Sebelum pohon mati secara alamiah dapat dilakukan pemanenan terhadap sumber daya alam tersebut. Proses pemanenan dapat dilakukan pada semua pohon dalam satu kawasan atau sebagian kawasan atau dapat juga hanya pohon tertentu saja. Pemanfaatan sumber daya hutan lazimnya diikuti dengan kegiatan penanaman kembali pada kawasan tersebut dalam menjaga kelestarian hutan. Baca Juga: Potensi Besar Yang ada Di Dalam Laut Indonesia
Sumber daya kayu yang dapat dimanfaatkan, kawasan di Kebumen (Dokumentadi Pribadi)
Kondisi hutan yang baik pada umumnya ialah hutan alam yang tanpa ada gangguan dari aktivitas manusia. Kegiatan pengelolaan hutan yang tidak intensif dapat berakibat pada banyaknya ekosistem yang rusak. Kegiatan kehutanan yang menjadi problema terjadi di dunia terkhusus di Indonesia. Meliputi masalah penebangan liar (illegal logging) bencana alam (kebakaran hutan), konversi hutan alam menjadi kawasan intensif dan eksploitasi sumberdaya alam hutan lainnya. Bentuk lain dari konversi hutan alam diantaranya berupa daerah pertambangan, pertanian, perkebunan dan peruntukkan lainnya seperti perumahan, kawasan umum yang memakan lahan luas (bandara dan sejenisnya) dan semisalnya. Kegiatan kehutanan tersebut telah banyak mengakibatkan masalah dalam kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak negatif yang timbul dan mulai banyak dirasakan oleh masayarakat global ialah global warming atau pemanasan global.

Manusia sendiri dalam melangsungkan kehidupannya dangat membutuhkan lingkungan yang cocok, baik, dan nyaman. Lingkungan yang baik bagi manusia biasa dicirikan dengan ketersediaan air yang kontinyu, ketersediaan udara segar dan tidak terpolusi dan tersedianya panorama alami yang indah. Panorama lingkungan yang indah dan alami merupakan salah satu kebutuhan hidup untuk dipenuhi sebaga peningkatan kesejahteraan hidup manusia. Oleh karena itu, sumber daya alam hutan memiliki banyak manfaat yang cukup penting dan mendasar bagi kehidupan manusia, yang perlu dijaga pengelolaannya secara lestari. Baca Juga: Isu Permasalahan Ketahanan Pangan di Indonesia

Penulis
Joko Maryono
Alumni Kehutanan UGM 2020

8 Mei 2020

Budidaya Laut, Raksasa Ekonomi Indonesia yang Tertidur

Tafshare.com - Budidaya laut atau biasa disebut marikultur merupakan kekayaan alam Indonesia yang sangat potensial. Potensi ini sungguh terlihat meninjau dari besarnya wilayah perairan laut Indonesia. Indonesia memiliki 3 bagian wilayah laut yang totalnya sebesar 5,8 juta km persegi yang terdiri dari laut nusantar sebesar 2.800.000 km persegi, laut teritorial sebesar 300.000 km persegi dan zona ekonomi eklusif indonesia (ZEEI) sebesar 2.700.000 km persegi (seluruh angka dalam pembulatan). Luas total lahan perairan laut yang dapat digunakan berdasarkan penjelasan KKP dalam artikelnya yang diterbitkan tahun 2019 berjudul "KKP Gandeng Norwegia Bangun Budidaya Marikultur Berkelanjutan di Indonesia" sebesar 12,1 juta hektar. Pemanfaatannya hingga kini sebesar 325.825 hektar. Dapat kita perhatikan dari angka tersebut bahwasanya masih ada potensi yang cukup besar. Sudah seharusnya kita masayarakat Indonesia atau Pemerintah Republik Indonesia melirik sektor marikultur. Pesan ini juga ditujukan terutama bagi kalangan alumni Perikanan terkhusus bidang budidaya perikanan (akuakultur). Baca Juga: Potensi Besar Yang ada Di Dalam Laut Indonesia
Budidaya Laut di Situbondo model Karamba Jaring Apung (Dokumentasi Pribadi)
Sektor akuakultur merupakan harapan bagi bangkitnya ekonomi negeri dimana sektor ini pada tahun 2018 telah menyumbang 57,14% dari total GDP nasional perikanan. Peran akuakultur juga dijelaskan dalam SDGs 14 yang menyebutkan life below water (kehidupan di laut) menjadi solusi ketahanan pangan dalam rangka memenuhi SDGs 2 yaitu zero hunger atau angka kelaparan nol. Jika kita berkaca dari Norwegia, negara pengekspor makanan laut terbesar tersebut memiliki luas lahan lautan sebesar 19.520 km persegi dengan garis pantai sepanjang 83.000 km persegi. Norwegia hingga kini menjadi negara paling produktif dalam pengelolaan wilayah laut terutama sektor akuakultur. Sektor perikanan di Norwegia menjadi kekuatan ekonomi yang sangat kuat. Sejauh ini Norwegia hanyalah nomor 2 pengekspor makanan laut di dunia sebesar 70 milyar. Negara pertama di duduki oleh Tiongkok. Realita tersebut jika dibandingkan, seharusnya Indonesia jauh lebih baik dan unggul. Dikarenakan Indonesia memiliki luas lahan yang cukup potensial dan belum banyak dimanfaatkan, selain itu wilayah dan iklim secara alami telah mendukung produktivitas yang baik. Baca Juga: Sifat-sifat Sumberdaya Perikanan

Marikultur merupakan aset negara yang sudah sepantasnya dilirik dan diprioritaskan pengembangannya. Sektor marikultur seringkali dipandang sebelah mata dan tidak serius dalam pengelolaannya. Padahal aset yang dapat dihasilkan memiliki nilai setara dengan APBN negara. Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001 - 2004 Prof. Dr. Rokhmin Dahuri dalam E. Magazine Marikultur edisi 1 Januari - Februari 2018 menjelaskan bahwa potensi produksi lestari marikultur sekitar 60 - 100 juta ton/tahun. Nilai ini merupakan yang terbesar di dunia. Jika dihitung secara ekonomi langsung (on farm) memiliki nilai lebih dari 120 milyar AS/tahun atau setara dengan 1.440 triliun rupiah. Nilai tersebut setara dengan setengah lebih sedikit dari APBN 2018 dimana nilainya 2.220,7 triliun rupiah. Muhibbuddin Koto selaku praktisi marikultur juga menjelaskan dalam majalah yang sama bahwa potensi marikultur Indonesia mencapai 60 juta ton yang terdiri dari 45 juta marine dan 15 juta coastal aquaculture. Beliau memberikan gambaran bahwa jika rata-rata harga setiap komoditas misalkan 50.000 per kg dikalikan dengan 60 juta ton maka hasilnya mencapai 3.000 triliun. Angka tersebut telah melebihi APBN negara pada 2018. Baca Juga: Ciri Umum Usaha Perikanan Tradisional

Gambaran tersebut menunjukan bahwa marikultur merupakan 'raksasa ekonomi' yang masih tertidur. Perlu strategi dan peran aktif dari seluruh kalangan baik pemerintah, praktisi, akademisi dan masyarakat untuk membangunkan 'raksasa' ini. Jika 'raksasa ekonomi' ini tidak segera kita bangunkan, bukan tidak mungkin negara-negara yang jauh lebih maju akan mencoba-coba memanfaatkan raksasa tersebut. Maka menyadari hal ini, perlu adanya upaya bertindak cepat dan tepat guna membangkitkan ekonomi Indonesia dan mensejahterakan masyarakat.

7 Mei 2020

Pengelolaan Air dan Kualitas Air Budidaya Ikan Kerapu Cantang di PT Indmira

Tafshare.com - Budidaya sistem RAS yang semakin marak dikembangkan ini perlu pengelolaan air yang optimal demi menjaga kualitas dan kuantitas budidaya. PT Indmira sebagai salah satu pelopor budidaya RAS ikan kerapu di pegunungan memberikan alur pengelolaan air yang cukup sistematis. Meski dalam beberapa hal dirahasiakan, tidak salah pula sebagian yang telah diketahui untuk dibagikan kepada khalayak umum. Demi meningkatkan wawasan masyarakat mengenai teknologi RAS dan mereka yang telah mengetahui dapat melakukan pengembangan. Baca Juga: Sejarah dan Peranan PT Indmira di Dunia Pertanian Agrokomplek

Dalam pelaksanaan budidaya ikan kerapu cantang sistem RAS di PT Indmira , air yang dikelola ialah air laut buatan. Dimana air ini berasal dari campuran air sumur dengan garam krosok yang telah dicairkan dan disaring. Kemudian campuran tersebut dengan dosis tertentu ditambahkan air mineral dimana berdasarkan kesaksian pegawai laboratorium air mineral tersebut merupakan racikan larutan AB mix. Racikan tersebut dibuat sendiri oleh PT Indmira dan masih dalam tahap pengembangan. Air sumur dan air garam yang telah tercampur dalam satu kolam diaduk menggunakan pompa 1x24 jam atau hingga benar-benar tercampur sempurna. Kemudian air mineral dimasukan melewati filter RDF. Ini dilakukan untuk menyaring air mineral dari kotoran yang terdapat dalam wadah dan air yang tersirkulasi pada RDF mendapatkan mineral. Sehingga pada saat air memasuki kolam budidaya air tersebut sudah mengandung mineral yang cukup.
Pengurasan dan pembersihan kolam budidaya (Dokumentasi Pribadi)
Air yang dikelola sebanyak 56.520 liter setiap kolam budidaya. Kolam budidaya memiliki ketinggian air 2 meter dan diameter dalam kolam 6 meter. Pembuatan air asin dilakukan pada satu bak kosong dengan mengisi air kira-kira setinggi 30 - 50 centimeter dan dicampurkan dengan garam sebanyak 25 sak garam krosok. Jika garam telah larut secara sempurna, kolam mulai dipenuhi dengan air tawar. Setelah bak terisi penuh dilanjutkan dengan mengukur salinitas air sebesar 18 ppt. Jika salinitas telah sesuai kemudian sistem resirkulasi mulai dijalankan. Skema resirkulasi air pemeliharaan dimulai dari RDF dengan menyaring kotoran kasar. Kotoran kasar tersebut dapat berupa limbah ikan yang mati, sisa pakan, ataupun kotoran ikan. Dilanjutkan air memasuki kolam perlakuan bioball yang berfungsi memfiksasi nitrat dan amoniak yang terkandung dalam air. Bakteri yang digunakan ialah nitrosomonas dan nitrobacter. Dosis bakteri tiap kolam bioball sebesar 10 ppm. Kemudian air memasuki kolam perlakuan Anaerob. Perlakuan ini dengan meminimalkan kandungan oksigen dalam air yang dilakukan untuk mencegah berkembangnya bakteri patogen yang membutuhkan oksigen. Kemudian air memasuki tabung skimmer untuk di saring dari kotoran liquid. Selanjutnya air dialirkan menuju kotak digessing dan turun ke kolam UV untuk dihilangkan bakteri patogennya. Kemudian air akan diberi nanobubble untuk suplai oksigen sebelum dialirkan ke kolam budidaya. Baca Juga: Komponen Alat Budidaya Kerapu Cantang Sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) di PT Indmira
JALA, pengecek kualitas air otomatis (Dokumentasi Pribadi)
Pengelolaan kualitas air dilakukan demi menjaga air tetap baik dan sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh ikan kerapu. Pengelolaan dilakukan dengan melakukan pengecekan parameter air secara berkala menggunakan alat bantu bernama JALA. Alat ini merupakan rakitan mandiri dari PT Indmira yang dikembangkan untuk membantu mendeteksi kualitas air yang dibutuhkan. JALA dapat mendeteksi salinitas air, DO, suhu dan pH sekaligus. JALA disini juga telah di setting agar dapat mengirimkan data kualitas air ke ponsel yang telah tersambung. Sehingga jika terjadi sesuatu pada kualitas air, penjaga budidaya atau penanggungjawab budidaya dapat bertindak atau memberikan instruksi. Aerator dipasang dengan batu aerator sebanyak 8 buah tiap kolam budidaya demi mempertahankan nilai DO tetap optimal. Nanobubble pada perlakuan setelah kolam UV dilakukan agar suplai oksigen maksimal.
  
Larutan test kit untuk pengecekan nitrit dan amoniak (atas) dan cadangan mineral larutan A dan B (bawah) (Dokumentasi Pribadi)
Parameter lain yang diamati ialah kadar Nitrit dan Amoniak. Pengamatan paramter ini dilakukan setiap 2 kali sepekan. Dalam pelaksanaannya dilakukan setiap senin dan kamis. Pengecekan dilakukan menggunakan test kit agar mudah dan cepat. Data yang didapatkan dicatat untuk mengetahui perkembangannya. Selain itu, air mineral cadangan disiapkan untuk berjaga jika terjadi perubahan kualitas air yang mendadak, ikan tiba-tiba naik ke permukaan atau masalah lain yang diperlukan tambahan mineral seperti mesin macet sementara, oli pada RDF bocor sehingga mencemari air budidaya atau kematian masal dan kasus lainnya. Baca Juga: Klasifikasi, Morfologi dan Habitat Ikan Kerapu Cantang